Kepemimpinan-Etika-Restrukturisasi Organisasi

2.1 Kepemimpinan
2.1.1 Definisi Kepemimpinan

Definisi mengenai kepemimpinan (leadership) dikemukakan oleh para peneliti dengan berbagai macam versi. Menurut Stephen P Robbins dalam Nawawi (2003), kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Definisi lain menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu interaksi antar suatu pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin. Pendapat ini menyatakan juga bahwa kepemimpinan merupakan proses dinamis yang dilaksanakan melalui hubungan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin dimana hubungan tersebut berlangsung dan berkembang melalui transaksi antara pribadi yang saling mendorong dalam rangka pencapaian tujuan.

Menurut Soekanto (1994), kepemimpinan adalah kemampuan dari seorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya) sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana yang dikehendaki pemimpin. Terkadang kepemimpinan dibedakan antara kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai proses sosial. Kepemimpinan sebagai kedudukan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai suatu proses sosial merupakan segala tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu bada yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat. Oleh karena itu , pemimpin merupakan dampak interaktif dari faktor individu/ pribadi dengan faktor situasi. Beberapa definisi pemimpin yang dikutip oleh Kartono dalam Siregar(2006) adalah sebagai berikut:

  1. Pemimpin adalah seorang yang memiliki kelebihan sehingga dia mempunyai kekuasaaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengarahkan dan membimbing bawahan. Juga mendapatkan pengakuan serta dukungan dari bawahannya, sehingga dapat menggerakkan bawahan ke arah pencapaian tujuan tertentu.
  2. Henry Pratt Fairchild mengatakan bahwa pemimpin dalam pengertian luas adalah seorang pemimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir, atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi. Dalam pengertian terbatas, pemimpin adalah seorang yang membimbing-pemimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.
  3. John Gage Allee mengatakan : “ Leader is a guide, a conductor; a commander” ( Pemimpin adalah pemandu, penunjuk, penuntun, komandan) Kottler dalam Andriany(2006) menyebutkan bahwa kepemimpinan mengacu pada proses gerakan suatu kelompok dalam arah yang sama tanpa paksaan. Menurutnya, kepemimpinan yang baik menggerakkan orang pada satu arah yang benar-benar merupakan minat jangka panjang mereka.

Herujito dalam Oktaviani (2007) menyatakan bahwa kepemimpinan akan timbul dimanapun asalkan ada unsur-unsur berikut ini, yaitu :

  1. ada orang yang dipengaruhi
  2. ada orang yang mempengaruhi
  3. ada pengarahan dari yang mempengaruhi

Model kepemimpinan menurut Herujito dalam Oktaviani(2007) didasarkan pada kenyataan bahwa kepemimpinan muncul dari adanya suatu hubungan yang kompleks terdiri dari (1) Pemimpin; (2) Pengikut; (3) Struktur Organisasi dan (4) Nilai Sosial dan pertimbangan politik. Oleh sebab itu kepemimpinan ini terdiri dari variabel-variabel sebagai berikut : ada seorang pemimpin, kelompok yang dipimpin, ada tujuan atau sasaran, ada aktivitas, ada interaksi dan ada kekuatan.
Menurut Stooner , fungsi kepemimpinan yang bertalian dengan tugas dan pembinaan kelompok, cenderung diekspresikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda. Pemimpin yang berorientasi pada tugas mengawasi bawahan secara ketat untuk memastikan bahwa tugas dilaksanakan secara memuaskan. Pelaksanaan tugas itu jauh lebih penting daripada pertumbuhan pekerja atau kepuasaan pribadi. Pemimpin yang berorientasi pada pekerja lebih berusaha memotivaasi daripada mengontrol bawahan. Pemimpin mengupayakan hubungan yang akrab, penuh kepercayaan, dan penuh penghargaan dengan pekerja, yang sering dibiarkan untuk berperan serta dalam keputusan-keputusan yang berhubungan dengan pekerja.
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mendorong orang banyak untuk mengikuti jalan berpikir dan ucapan yang diungkapkannya, hal ini dikarenakan bahwa mereka meyakini kebenaran dari apa yang diungkapkan tersebut. Kepemimpinan memiliki arti penting dalam pencapaian tujuan suatu organisasi sehingga dapat dikatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan yang dialami sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi tugas memimpin dalam organisasi itu. Dari uraian yang telah dikemukakan tampak bahwa terdapat berbagai pengertian kepemimpinan. Secara umum dapat dibedakan dua pengertian kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan organisasi, kepemimpinan mengandung pengertian sebagai kemampuan menggerakkan orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan yang diinginkan pemimpin. Kedua, kepemimpinan dalam arti yang lebih luas.

Kepemimpinan diartikan setiap kemampuan untuk mempengaruhi orang lain sehingga orang lain berperilaku sesua dengan yang diinginkan orang tersebut (pemimpin).
Dalam kepemimpinan organisasi, Siagian dalam Oktavitani(2007) mendefinisikan pemimpin sebagai setiap orang yang mempunyai “bawahan”. Kemampuan untuk mengkombinasikan kekuatan kepemimpinan dan kekuatan manajemen untuk membangun sesuatu disebut “ pemimpin-manajer” .
2.1.2 Karakteristik Pribadi Pemimpin
Kottler dalam Andriany (2006) memberikan beberapa sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat menjadi pemimpiin yang efektif. Sifat tersebut antara lain wajah tampan, bijaksana, karisma, mampu memotivasi orang-orang, kemampuan komunikasi yang cukup dan panddangan yang tajam pada semua tipe orang yang terlibat. Sifat-sifat tersebut dapat dilihat pada uraian Kottler mengenai syarat-syarat untuk memberikan kepemimpinan yang efektif dalam tugas-tugas manajemen dalam bisnis yang komplek sebagai berikut :
1. Pengetahuan Mengenai Industri dan Organisasi
a. Pengetahuan yang luas mengenai Industri (pasar, persaingan, produk, teknologi)
b. Pengetahuan yang luas mengenai perusahaan (para pemain kunci dan apa yang membuat posisi mereka kuat, kebudayaan, sejarah, system)
2. Relasi dalam perusahaan dan Industri
a. Relasi yang kuat dan luas dalam perusahaan dan industri
3. Reputasi dan Catatan Rekor
a. Reputasi yang cemerlang dan suatu catatan rekor yang kuat dalam sejarah aktivitas
4. Kemampuan dan Keahlian
a. Pikiran yang tajam ( kemampuan menganalisis yang cukup kuat, pengambil keputusan yang baik, kemampuan untuk berfikir secara strategis dan multidimensi)
b. Keahlian dalam berhubungan dengan orang ( keahlian untuk membangun hubungan kerja yang baik dengan cepat,empati, kemampuan menjual, peka terhadap orang dan sifat manusia)
5. Nilai-nilai Pribadi
a. Integrasi yang tinggi ( bisa menghargai semua orang dan kelompok)
6. Motivasi
a. Mempunyai banyak energi
b. Dorongan yang kuat untuk memimpin (kekuatan dan prestasi perlu didukung oleh rasa percaya diri )
2.1.3 Gaya Kepemimpinan
Golberg dan Learson dalam Andriany(2006) menyebutkan gaya kepemimpinan yang diuraikan oleh lewin, yang meliputi: gaya kepemimpinan otoriter, gaya demokratis, gaya laissez faire,dan gaya non-direktif.
a. Gaya Otoriter
Pemimpin yang menganut gaya otoriter mengeksploitir ketergantungan pengikutnya dengan menentukan kebijakan kelompok tanpa berkonsultasi dengan anggota kelompok yang lain, mendikte tugas, menetapkan prosedur, mengkritik anggota serta cenderung mengambil jarak dengan anggota kelompok lain.
b. Gaya Demokratis
Pemimpin yang menganut gaya demokratis percaya bahwa orang mampu mengarahkan diri sendiri dan berusaha menyajikan suatu kesempatan bagi anggotanya untuk tumbuh, berkembang, dan bertindak sendiri (self actualization). Pemimpin yang demokratis mendukung komunikasi diantara para anggota kelompok dengan cara mendorong mereka untuk menentukan sendiri kebijaksanaan dan kegiatan kelompok.
c. Gaya Laissez Faire
Kepemimpinan ini menunjukkan suatu pola pengabaian, dimana pemimpin yang dipilih atau tokoh yang berwenang dalam suatu kelompok berusaha menghindari tanggung jawab terhadap kelompoknya. Pemimpin yang menganut gaya ini menghindari partisipasi dan menganut sikap yang tak acurh terhadap anggota kelompoknya serta memberikan materi dan informasi hanya apabila diminta.
d. Kepemimpinan Non Direktif
Pemimpin yang menganut gaya ini menolak memberikan pengarahan pada kelompok, tetapi mencoba mengerti tentang apa yang dirasa dan dipikirkan oleh anggota kelompok. Dengan demikian kelompok diberi tanggung jawab untuk menentukan dan mencari tujuan serta sasaran mereka sendiri.
Lebih mendalam lagi Thoha (2001) menjelaskan perilaku gaya dasar dalam proses pengambilan keputusan, yaitu :
1. Instruksi, yaitu perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan rendah dukungan, dicirikan oleh komunikasi satu arah. Pemimpin memberikan batasan peranan pengikutnya dan memberitahu mereka tentang mekanisme pelaksanaan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan proses pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin.
2. Konsultatif, yaitu perilaku pemimpin tinggi pengarahan dan tinggi dukungan. Dalam hal ini pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan pengambilan keputusan , tetapi hal ini diikuti dengna banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku mendukungan dengan menderngar perasaan dari pengikut tentang keputusan yang idbuat serta ide dan saran dari mereka.
3. Partisipasi, yaitu perilaku pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan. Dalam hal ini posisi control atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian, komunikasi dua arah ditingkatkan dan peranan pemimpin adalah secara aktif mendengar. Tanggung jawab pemecahan masalah dan pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak pengikut.
4. Delegasi yaitu perilaku pemimpin yang rendah dukungan dan rendah pengarhan. Dalam hal ini pemimpin mendiskusikan mesalah bersama-sama dengan bawhan sehingga tercapai kesepakan menganai defisini masalah yang kemudian proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan pada bawahan.
Menurut Siagian dalam Oktaviani(2007) menyebutkan bahwa kepemimpinan dapat dikembangkan melalui pengembangan diri. Disebutkan juga bahwa kesalahan fatal dari seorang pemimpin adalah ketidakmampuan belajar dari kesalahan, kurang keahlian dan kemampuan interpersonal, kurang terbuka terhadap ide baru , kurang akuntabel, dan miskin inovasi. Untuk menghindarkan kesalahan tersebut ada lima kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu karakter, kemampuan interpersonal, keahlian interpersonal, fokus pada hasil, serta memimpin perubahan organisasi.
Menurut Siagian dalam Oktavitani(2007) kepemimpinan dengan modal berupa bakat memang penting, akan tetapi tidak cukup. Kesempatan memperoleh pengetahuan teoritikal melalui pendidikan dan latihan kepemimpinan juga sangat penting, akan tetapi juga tidak cukup. Masih diperlukan adaya kesempatan untuk menduduki jabatan pimpinan yang memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan bakatnya dan menerapkan pengetahuan teoritikal yang dimilikinya.
2.1.4 Teori – Teori Perkembangan Kepemimpinan.
Dalam membahas tentang kepemimpinan akan terkait dengan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli. Terdapat berbagai pandangan mengenai lahir dan berkembangnya pemimpin dalam kehidupan masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa kepemimpinan itu potensi yang dibawa sejak lahir, ada pula yang meyakininya pemimpin lahir karena situasi yang menghendaki.
Menurut Siagian dalam Soekanto (1994), dalam memahami gerak perubahan kemunculan seorang pemimpin, ada tiga teori yang dapat menjelaskan kemunculan seseorang sebagai pemimpin.
1. Teori Genetis
• Inti dari ajaran teori ini tersimpul dalam sebutan yang mengatakan bahwa “ leaders are born and not made” . Pemimpin tidak dapat diciptakan tetapi muncul karena bakal luar biasa sejak lahir.
• Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.
• Seorang pemimpin ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi macam apapun.
• Secara filosofis, pandangan ini tergolong kepada pandangan yang fatalistis atau deterministis.
2. Teori Sosial ( Lawan teori genetis)
• Inti ajaran teori sosial ini adalah bahwa “ leaders are made and not born”. Pemimpin tidak lahir begitu saja, dia harus disiapkan dan dibentuk.
• Setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
3. Teori Ekologis ( sebagai reaksi atas kedua teori diatas)
• Seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkannya lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimiliki itu.
Penulis lain, Thoha dalam Andriany(2006) mengungkapkan teori kepemimpinan sebagai berikut :
• Teori Sifat ( Trait Theory)
Teori ini memandang bahwa perhatian terhadap kepemimpinan dialihkan kepada sifat-sifat umum yang dipunyai oleh pemimpin, tidak lagi menekankan apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibuat.
• Teori Kelompok
Teori kelompok ini beranggapan bahwa supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang posisif diantara pemimpin dan pengikut-pengikutnya.
• Teori Situasional
Dalam teori ini disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan yang dikombinasikan dengan situasi akan mampu menentukan keberhasilan pelaksanaan kerja.
• Teori Jalan Kecil-Tujuan (Path-goal Theory)
Dalam teori ini digambarkan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan dan pelaksanaan pekerjaan bawahannya.
2.2 Teori Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani ”ethos” yang memiliki arti adat istiadat/kebiasan yang baik. Seiring dengan perkembangan jaman, arti kata ini berkembang menjadi suatu arti berdasarkan tujuan, ruang dan waktu yang berbeda, serta dan konteks yang berbeda dalam menggambarkan perangai manusia terhadap aktivias kehidupan. Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai :”the discipline which can act as the performance index or reference for our control system”. Suseno (1987) menyatakan bahwa etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Ahli filosofi memandang etika sebagai suatu studi formal tentang moral, sedangkan sosiolog memandang etika sebagai adat istiadat kebiasaan dan budaya dlm berperilaku. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
2.3 Teori Efektivitas Organisasi
2.3.1 Efektivitas Kinerja Organisasi
Kast dan Rosenzweig seperti yang dikutip oleh Soekanto (1994) mengatakan bahwa efektivitas organisasi adalah suatu ukuran atau dimensi yang biasa digunakan untuk mengenai jurang antara “situasi yang ada” dengan “situasi yang diharapkan” dalam perbaikan organisasi.
Sedangkan Olmstead dalam Andreadis(2009) mengungkapkan bahwa
…organizational effectiveness as the accomplishment of missions or the achievement of objectives…
Definisi ini memberikan implikasi bahwa terciptanya suatu efektivitas organisasi atau suatu pencapain sasaran organisasi yang tepat dan benar merupakan suatu tahapan penyempurnaan dari strategi, struktur, proses, perilaku dalam pencapain sasaran tersebut.
Organisasi terdiri dari individu dan kelompok, karena itu efektivitas organisasi terdiri dari efektivitas individu dan kelompok. Namun demikian, efektivitas kinerja organisasi lebih banyak dari jumlah efektivitas individu dan kelompok. Organisasi mampu mendapatakan hasil kinerja untuk lebih tinggi tingkatannya dari pada jumlah hasil kinerja setiap bagiannya. Sebenarnya, alasan bagi organisasi sebagai alat untuk melaksanakan pekerjaan masyarakat adalah bahwa organisasi itu dapat melakukan pekerjaan masyarakat adalah bahwa organisasi itu dapat melakukan pekerjaan yang lebih banyak dari pada yang mungkin dilakukan oleh individu. Jadi pengertian efektivitas kinerja organisasi adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dilakukan dikerjakan oleh setiap individu secara bersama-sama.
2.3.2 Pendekatan Efektivitas Kinerja Organisasi
Adapun beberapa pendekatan efektivitas kinerja organisasi oleh George England dalam Siregar (2006) dikemukakan sebagai berikut :
1. The Bass Model
• The degree to which it is productive, profitable, self maintaining, and so fort (Tingkat produktivitas, menguntungkan, mandiri dan sebagainya).
• The degree to which it is of value to it is member (Tingkat manfaatnya bagi anggotanya).
• The degree to which it and its members are of value to society (Tingkat manfaat organisasi dan anggotanya bagi masyarakat).
2. The Yochman-searchore Model
• Organisasi sebagai sistem terbuka
• Efektivitas organisasi sama dengan posisi tawar menawar
• Penguasaan sumber-sumber langkah dan berharga
• Kontrol lingkungan
3. The Bennis Model
• Model ini yang terpenting dalam kriteria efektivitas kinerja organisasi adalah perhatiannya terhadap masalah adaptasi pada perubahan.
2.4 Tinjauan Teori Restukturisasi Organisasi
Organisasi berfungsi dengan berbagai struktur dan proses yang saling tergantung. Struktur dan proses-proses organisasi adalah tidak tetap atau statik, tetapi lebih merupakan pola-pola hubungan yang berubah secara kontnyus dalam suatu kegiatan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, perubahan adalah suatu aspek yang universal dan kontinual dalam organisasi (Soekanto,1994)
Sedangkan Porter dkk dalam Soekanto (1994) menyatakan bahwa kecepatan perubahan akan berbeda dari satu organisasi dengan organisasi lainnya, tetapi fakta tentang perubahan tidak. Hal ini dapat mengimplikasikan sebuah pernyataan bahwa perubahan adalah bagian dan bidang proses organisasional, dan tidak ada pembahasan tentang organisasi yang akan lengkap tanpa pembicaraan topik perubahan dalam organisasi itu sendiri.
Soekanto (1994) mengemukakan secara ringkas mengenai berbagai sumber perubahan organisasi, antara lain :
1. Lingkungan di luar organisasi
Lingkungan di luar organisasi, baik itu politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, kepercayaan, pertahanan, keamanan (nasional maupun internasional). Perubahan lingkungan terjadi begitu cepat sehingga memberikan tekanan pada organisasi untuk merubah tujuan, strategi, kebijaksanaan dan struktur organisasi.
2. Perubahan Tujuan Organisasi
Perubahan tujuan organisasi baik itu datangnya dari dalam maupun dipaksakan dari luar dapat terjadi. Merubah tujuan berarti merubah strategi organisasi dan ini memerrlukan perubahan wadah strategi tersebut yaitu struktur.
3. Teknologi
Teknologi yang berubah jelas akan merubah organisasi; metode baru memerlukan penangan khusus dan perlunya bagian pennelitian dan pengembangan yang menerapkan metoda-metoda baru demi perusahaan.
4. Manajerial
Dahulu organisasi mungkin hanya perencanaan dan pengawasan. Sekarang karena kompeksitasnya kegiatan yang ada maka diperlukan pengorganisasian, pengarahan dan pengkoordinasian fungsi-fungsi operasional perusahaan.
5. Perubahan struktural
Perubahan struktural jelas merubah organisasi sebagaimana yang telah dikemukakan diattas dimana disini diperlukan penyesuaian yang menyeluruh baik mengenai proses maupun organisasional yang terjadi.
6. Perubahan Psikososial
Perubahan psikososial bersumber pada para anggota. Kemampuan dan kemauan anggota tentu saja akan mempengaruhi kesuksesan organisasi.
Kebijakan restrukturisasi organisasi pada hakekatnya bermaksud untuk melakukan perubahan atau penataan ulang struktur organisasi sehingga sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Oleh karena itu dalam restrukturisasi organisasi harus memperhatikan faktor-faktor yang menjadi penentu atau dianggap penting sehingga struktur organisasi yang dihasilkan akan efektif. Menurut Djatmiko dalam Andriany(2006), beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan struktur organisasi: ukuran organisasi, teknologi, lingkungan dan strategi pilihan. Sedangkan Tyson dan Jackson (2000) mengemukakan ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan ketika mendisain organisasi dalam bentuk birokrasi, yaitu: ukuran hierarki, rentang pengawasan dan pengelompokan kegiatan.
Soekanto (1994) juga mengemukakan beberapa pandangan tentang konsep perubahan dalam organisasi, hal itu antara lain :
1. Pandangan yang menyatakan bahwa pada hakekatnya sasaran atau target perubahan organisasi adalah birokrasi, dimana dalam hal ini birokrasi sebagai alat administrasi untuk pencapaian tujuan-tujuan dan sebagai suatu instrumen kekuasaan dan pengaruh.
2. Pandangan kedua yang diungkapkan oleh Warren G. Bennis dimana yang mengatakan bahwa perubahan organisasi hendaknya melalui demokrasi dan liberalisasi.
3. Pandangan ketiga yang dikenal sebagai aliran yang menentang paham perubahan yang direncanakan. Paham ini dipelopori oleh Kast dan Rosenzqeig, dimana beranggapan bahwa organisasi pada umumnya dan manajemen pada khususnya dapat mengenali jurang antaara situasi yang ada dengan situasi yang diharapkan berdasarkan berbagai ukuran. Segala sesuatu yang berhubungan dengan itu disebut perbaikan organisasi. Adapun ukurang atau dimensi yang biasa digunakan adalah efektivitas dan efisiensi organisasi, serta kepuasan anggota.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: