Activity Based Costing

Sistem pembiayaan (costing system) secara umum terbagi menjadi dua tipe, yaitu sistem akuntansi biaya konvensional. Sistem akuntansi biaya konvensional menggunakan unit / kuantitas produk yang dihasilkan sebagai dasar pembebanan. Metode pembebanan semacam ini sering disebut juga Unit Based System. Pada sistem ini biaya-biaya yang timbul dicatat, dikumpulkan, dan dikendalikan berdasar atas elemen-elemennya ke dalam pusat-pusat pertanggungjawaban. Dengan cara semacam ini maka biaya-biaya produksi juga ditentukan menurut banyaknya sumber daya yang diserap oleh masing-masing pusat biaya. Ada dua metode yang digunakan untuk menghitung harga pokok produk yaitu sebagai berikut :

1. Metode Harga Pokok Penuh (Full Costing)

Metode harga pokok penuh merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang memperhitungkan semua unsur biaya produksi ke dalam harga pokok produk yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik, baik yang bersifat tetap maupun variabel. Metode harga pokok penuh ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak eksternal perusahaan.

2.Metode Harga Pokok Variabel (Variable Costing)

Metode harga pokok variabel merupakan metode penentuan harga pokok produksi yang hanya mempehitungkan biaya produksi yang bersifat variabel ke dalam harga pokok produksi. Biaya tersebut meliputi biaya bahan baku, biaya tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik variabel. Metode harga pokok variabel ini lebih ditujukan untuk memenuhi kepentingan pihak internal.

Lingkungan teknologi manufaktur maju memerlukan sistem informasi akuntansi yang dirancang untuk mengelola aktivitas dan mempertahankan keunggulan bersaing. Sistem tersebut dinamakan akuntansi aktivitas (Activity Accounting) atau disebut pula Activity Based Costing System (ABC System). Sistem ini juga dapat digunakan untuk menilai kinerja dengan cara-cara yang baru. Dalam ABC System, aktivitas dianggap sebagai penyebab timbulnya biaya produksi. Namun lebih dari itu, ABC System juga menekankan pada aspek perencanaan, pengendalian, dan pengambilan keputusan oleh manajer.

Hongren mendefinisikan ABC Sistem sebagai : ”… is a System that first accumulates the costs of each activity of an organization and then applies the costs of activities to the products, services, or other cost objects using appropriate cost drivers”. (Charles T. Hongren, Sundem, & Stratton, 1996 : 502). Secara umum pengertian Activity Based Costing System (ABC System) adalah suatu sistem biaya yang mengumpulkan biaya-biaya ke dalam aktivitas-aktivitas yang terjadi dalam perusahaan lalu membebankan biaya atau aktivitas tersebut kepada produk atau jasa, dan melaporkan biaya aktivitas dan produk atau jasa tersebut pada manajemen agar selanjutnya dapat digunakan untuk perencanaan, pengendalian biaya, dan pengambilan keputusan.

Activity Based Costing System timbul sebagai akibat dari kebutuhan manajemen akan informasi akuntansi yang mampu mencerminkan konsumsi sumber daya dalam berbagai aktivitas untuk menghasilkan produk. Kebutuhan akan informasi biaya yang akurat tersebut disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:

1. Persaingan global (Global Competition) yang dihadapi perusahaan manufaktur memaksa manajemen untuk mencari berbagai alternatif pembuatan produk yang cost effective.

2. Penggunaan teknologi maju dalam pembuatan produk menyebabkan proporsi biaya overhead pabrik dalam product cost menjadi dominan.

3. Untuk dapat memenangkan persaingan dalam kompetisi global, perusahaan manufaktur harus menerapkan market–driven strategy.

4.   Market–driven strategy menuntut manajemen untuk inovatif.

5. Pemanfaatan teknologi komputer dalam pengolahan data akuntansi memungkinkan dilakukannya pengolahan berbagai informasi biaya yang sangat bermanfaat dengan cukup akurat.

Manfaat sistem biaya Activity-Based Costing (ABC) bagi pihak manajemen perusahaan adalah :

1. Suatu pengkajian sistem biaya ABC dapat meyakinkan pihak manajemen bahwa mereka harus mengambil sejumlah langkah untuk menjadi lebih kompetitif. Sebagai hasilnya, mereka dapat berusaha untuk meningkatkan mutu sambil secara simultan fokus pada pengurangan biaya yang memungkinkan. Analisis biaya ini dapat menyoroti bagaimana benar-benar mahalnya proses manufakturing, hal ini pada gilirannya dapat memacu aktivitas untuk mengorganisasi proses, memperbaiki mutu, dan mengurangi biaya.

2.  Pihak manajemen akan berada dalam suatu posisi untuk melakukan penawaran kompetitif yang lebih wajar.

3. Sistem biaya ABC dapat membantu dalam pengambilan keputusan (management decision making) membuat-membeli yang manajemen harus lakukan, disamping itu dengan penentuan biaya yang lebih akurat maka maka keputusan yang akan diambil oleh phak manajemen akan lebih baik dan tepat. Hal ini didasarkan bahwa dengan akurasi perhitungan biaya produk yang menjadi sangat penting dalam iklim kompetisi dewasa ini.

4. Mendukung perbaikan yang berkesinambungan (continuous improvement), melalui analisa aktivitas, sistem ABC memungkinkan tindakan eleminasi atau perbaikan terhadap aktivitas yang tidak bernilai tambah atau kurang efisien. Hal ini berkaitan erat dengan masalah produktivitas perusahaan.

5. Memudahkan penentuan biaya-biaya yang kurang relevan (cost reduction), pada sistem tradisional, banyak biaya-biaya yang kurang relevan yang tersembunyi. Sistem ABC yang transparan menyebabkan sumber-sumber biaya tersebut dapat diketahui dan dieliminasi.

6. Dengan analisis biaya yang diperbaiki, piliak manajemen dapat melakukan analisis yang lebih akurat mengenai volume produksi yang diperlukan untuk mencapai impas (break even) atas produk yang bervolume rendah.

Beberapa keunggulan dari sistem biaya Activity Based Costing (ABC) dalam penentuan biaya produksi adalah sebagai berikut :

a. Biaya produk yang lebih realistis, khususnya pada industri manufaktur teknologi tinggi dimana biaya overhead adalah merupakan proporsi yang signifikan dari total biaya.

b. Semakin banyak overhead dapat ditelusuri ke produk. Dalam pabrik yang modem, terdapat sejumlah aktivitas non lantai pabrik yang berkembang. Analisis sistem biaya ABC itu sendiri memberi perhatian pada semua aktivitas sehingga biaya aktivitas yang non lantai pabrik dapat ditelusuri.

c. Sistem biaya ABC mengakui bahwa aktivitaslah yang menyebabkan biaya (activities cause cost) bukanlah produk, dan produklah yang mengkonsumsi aktivitas.

d. Sistem biaya ABC memfokuskan perhatian pada sifat riil dari perilaku biaya dan membantu dalam mengurangi biaya dan mengidentifikasi aktivitas yang tidak menambah nilai terhadap produk.

e. Sistem biaya ABC mengakui kompleksitas dari diversitas produksi yang modem dengan menggunakan banyak pemacu biaya (multiple cost drivers), banyak dari pemacu biaya tersebut adalah berbasis transaksi (transaction-based) dari pada berbasis volume produk.

f.  Sistem biaya ABC memberikan suatu indikasi yang dapat diandalkan dari biaya produk variabel jangka panjang (long run variabel product cost) yang relevan terhadap pengambilan keputusan yang strategik.

g. Sistem biaya ABC cukup fleksibel untuk menelusuri biaya ke proses, pelanggan, area tanggungjawab manajerial, dan juga biaya produk.

Suatu temuan yang konsisten dari buku akuntansi biaya tradisional adalah ketidaktepatan dalam menggunakan informasi biaya untuk menjalankan suatu pabrik manufakturing. Hal ini berbeda dengan sistem biaya ABC yang memberikan informasi biaya yang lebih akurat. Sistem biaya ABC menelusuri biaya produksi tidak langsung ke unit, batch, lintasan produk, dan seluruh fasilitas berdasarkan aktivitas tiap level. Metode penentuan biaya ini menghasilkan biaya akhir produk yang lebih akurat dan lebih realistis.

Beberapa perbandingan antara sistem biaya tradisional dan sistem biaya Activity-Based Costing (ABC) yang dikemukakan oleh Amin Widjaya dalam bukunya “Activity-Based Costing untuk manufakturing dan pemasaran”, adalah sebagai berikut:

1.Sistem biaya ABC menggunakan aktivitas-aktivitas sebagai pemacu biaya (cost driver) untuk menentukan seberapa besar konsumsi overhead dari setiap produk. Sedangkan sistem biaya tradisional mengalokasikan biaya overhead secara arbitrer berdasarkan satu atau dua basis alokasi yang non representatif.

2. Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya tradisional terfokus pada performansi keuangan jangka pendek seperti laba. Apabila sistem biaya tradisional digunakan untuk penentuan harga dan profitabilitas produk, angka-angkanya tidak dapat diandalkan.

3.Sistem biaya ABC memfokuskan pada biaya, mutu dan faktor waktu. Sistem biaya ABC memerlukan masukan dari seluruh departemen persyaratan ini mengarah ke integrasi organisasi yang lebih baik dan memberikan suatu pandangan fungsional silang mengenai organisasi.

4.Sistem biaya ABC mempunyai kebutuhan yang jauh lebih kecil untuk analisis varian dari pada sistem tradisional, karena kelompok biaya (cost pools) dan pemacu biaya (cost driver) jauh lebih akurat dan jelas, selain itu ABC dapat menggunakan data biaya historis pada akhir periode untuk menghilang biaya aktual apabila kebutuhan muncul.

5.Pada sistem biaya tradisional penentuan tarif suatu produk berdasar aktivitas level unit (bahan baku dan tenaga kerja). Sedangkan pada ABC System pembebanan biaya overhead berdasarkan aktivitas berlevel unit maupun non unit sehingga penentuan biaya lebih akurat karena ditelusuri ke masing-masing produk.

Sistem biaya tradisional mengutamakan satu atau dua pemacu biaya yang berbasis unit sebagai pembeban biaya sehingga menciptakan biaya produk yang terdistorsi. Distorsi yang terjadi berupa subsidi silang (cross subsidy) antar produk, satu produk mengalami kelebihan biaya (overcosting) dan produk lainnya mengalami kekurangan biaya (undercosting). Tingkat distorsi yang terjadi tergantung pada proporsi biaya overhead terhadap biaya produksi total. Semakin besar proporsinya, semakin besar distorsi yang terjadi demikian juga sebaliknya. Hal inilah yang melandasi dikembangkannya sistem biaya Activity-Based Costing.

Perkembangan aktivitas berdasarkan pembiayaan (ABC system) pada awalnya didasari oleh adanya perbaikan kecermatan dalam perhitungan biaya produk dalam perusahaa manufaktur yang pada umumnya menghasilkan banyak produk. Permasalahan yang dihadapi oleh perusahaan pada umumnya adalah bagaimana menghasilkan banyak jenis produk dengan membebankan biaya overhead pabrik ke produk-produk tersebut. Dalam aplikasi akuntansi biaya tradisional, konsep  volume-related drivers digunakan untuk membebankan biaya overhead pabrik ke pabrik, sehingga beban biaya produk yang dihasilkan dari cara pembebanan ini menjadi tidak akurat.  Pada sistem ABC menawarkan dasar pembebanan yang lebih bervariasi, seperti batch-related drivers, product sustaining drivers dan facility sustaining drivers untuk membebankan biaya overhead pabrik kepada berbagai jenis produk yan dihasilkan oleh perusahaan .  Dengan berbagai drivers yang sesuai dengan jenis produk yang dihasilkan maka akuntansi biaya dapat menghasilkan informasi beban biaya produk yang akurat, sehingga hal ini akan memudahkan pihak manajemen dalam proses pengambilan keputusan tentang harga jual dan dalam melakukan analisis profitabilitas setiap jenis produk.

Pada perkembangan selanjutnya, ABC system tidak lagi terbatas pemanfaatannya hanya untuk menghasilkan informasi beban biaya produk yang akurat. ABC sistem pada saat ini merupakan konsep yang didefinisikan secara luas sebagai sistem informasi untuk memotivasi individu dalam melakukan improvement terhadap proses yang digunakan oleh perusahaan untuk menghasilkan produk/jasa bagi customer. ABC sistem dimanfaatkan untuk mengatasi kelemahan akuntansi baiaya tradisional yang didesain khusus untuk perusahaan manufaktur. Semua jenis perusahaan (manufaktur, jasa, dagang) dan organisasi (sektor publik dan nirlaba) sekarang dapat memanfaatkan ABC system sebagai sistem akuntansi biaya, baik untuk tujuan pengurangan biaya (cost reduction) maupun untuk perhitungan secara akurat beban biaya fitur produk/jasa. Jika pada tahap awal perkembanannya, ABC system hanya difokuskan pada biaya overhead pabrik, sedangkan pada tahap perkembangan selanjutnya, ABC system diterapkan ke semua biaya, mulai dari biaya desain, biaya produksi, biaya penjualan, biaya pasca jual, sampai biaya administrasi dan umum. ABC sistem menggunakan aktivitas sebagai titik pusat (focal point) untuk mempertanggungjawabkan biaya. Oleh karena aktivitas tidak hanya dijumpai di perusahaan manufaktur, dan tidak terbatas di tahap produksi, maka ABC system dapat dimanfaatkan di berbagai jenis organisasi dan mencakup biaya di luar produksi.

Activity-Based Costing (ABC) telah dikembangkan pada organisasi sebagai suatu solusi untuk masalah-masalah yang tidak dapat diselesaikan dengan baik oleh sistem biaya tradisional. Sistem ABC merupakan suatu sistem yang baru sehingga konsepnya masih dan terus berkembang, sehingga ada berbagai definisi yang menjelaskan tentang sistem biaya ABC itu sendiri. Beberapa ahli manajemen biaya memberikan defenisi mengenai sistem biaya Activity-Based Costing sebagai berikut :

1. Wayne J. Morse, James R. Davis dan A. L. Hartgraves

Dalam bukunya Management Accounting (1991) memberikan defenisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai sistem pengalokasian dan pengalokasian kembali biaya ke objek biaya dengan dasar aktivitas yang menyebabkan biaya. Sistem ABC ini didasarkan pada pemikiran bahwa aktivitas penyebab biaya dan biaya aktivitas harus dialokasikan ke objek biaya dengan dasar aktivitas biaya tersebut dikonsumsikan. Sistem ABC ini menelusuri biaya ke produk sebagai dasar aktivitas yang digunakan untuk menghasilkan produk tersebut.

2. Ray H. Garrison

Dalam bukunya Managerial Accounting (1991) memberikan definisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu metode kalkulasi biaya yang menciptakan suatu kelompok biaya untuk setiap kejadian atau transaksi (aktivitas) dalam suatu organisasi yang berlaku sebagai pemacu biaya. Biaya overhead kemudian dialokasikan ke produk dan jasa dengan dasar jumlah dari kejadian atau transaksi produk atau jasa yang dihasilkan tersebut.

3. Douglas T. Hicks

Dalam bukunya Activity-Based Costing for Small and Mid-sized Busines An Implementation Guide (1992) memberikan defenisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai merupakan sebagai suatu konsep akuntansi biaya yang berdasarkan atas pemikiran bahwa produk mengkonsumsi aktivitas dan aktivitas yang menimbulkan biaya. Dalam sistem biaya ABC ini dirancang sedemikian rupa sehingga setiap biaya yang tidak dapat dialokasikan secara langsung kepada produk, dibebankan kepada produk berdasarkan aktivitas dan biaya dari setiap aktivitas kemudian dibebankan kepada produk berdasarkan konsumsi masing-masing aktivitas tersebut.

4. L. Gayle Rayburn

Dalam bukunya Cost Accounting-Using Cost Management Approach (1993) memberikan definisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu sistem yang mengakui bahwa pelaksanaan aktivitas menimbulkan konsumsi sumber daya yang dicatat sebagai biaya, atau dengan kata lain bahwa ABC tersebut adalah merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang berbasis pada transaksi. Sistem biaya ABC itu sendiri adalah mengalokasikan biaya ke transaksi dari aktivitas yang dilaksanakan dalam suatu organisasi, dan kemudian mengalokasikan biaya tersebut secara tepat ke produk sesuai dengan pemakaian aktivitas setiap produk.

5. Charles T. Horngren, Gary L. Sundem dan William O. Stratton

Dalam bukunya Introduction to Management Accounting (1996) memberikan defenisi mengenai Activity-Based Costing (ABC), sebagai suatu sistem yang merupakan pendekatan kalkulasi biaya yang memfokuskan pada aktivitas sebagai objek biaya yang fundamental istem ABC ini menggunakan biaya dari aktivitas tersebut sebagai dasar untuk mengalokasikan biaya keobjek biaya yang lain seperti produk, jasa, atau pelanggan.

Konsep tentang ABC System berubah sesuai dengan perkembangan implementasi ABC System itu sendiri. Pada awal perkembangannya, ABC System dipakai sebagai alat untuk memperbaiki akurasi perhitungan biaya produk, namun perkembangannya terkini, ABC System telah berkembang sedemikian rupa sehingga menjadi ”cara baru dalam menjalankan bisnis”. Tabel 1. menggambarkan mitos dan realitas tentang ABC System dalam perkembangannya.

MITOS

REALITAS

1

ABC Systemmerupakan sistem pencatatan, penggolongan, peringkasan, penyajian, dan pengintepretasian informasi biaya.

1

ABC System merupakan sistem analisis biaya berbasis aktivitas untuk memenuhi kebutuhan personel dalam pengambilan keputusan, baik yang bersifat strategik dan maupun operasional

2

ABC Systemmerupakan sistem akuntansi dengan perusahaan manufaktur sebagai modelnya

2

ABC Systemmerupakan sistem informasi biaya yang dapat diterapkan dalam semua jenis organisasi-perusahaan manufaktur, jasa, dan dagang, serta organisasi sektor publik dan organisasi nirlaba.

3

ABC Systemberfokus ke biaya produksi

3

ABC System mencakup seluruh biaya. Dalam perusahaan manufaktur, ABC System mencakup biaya desain dan pengembangan, biaya produksi, biaya dukungan intern, biaya pemasaran, biaya distribusi, biaya layanan purna jual.

4

ABC Systemberfokus ke perhitungan biaya produk dan cost control

4

ABC System berfokus ke long-term strategic cost reduction

5

ABC Systemdapat diselenggarakan secara manual

5 ABC System hanya akan optimum hasilnya jika diselesaikan dengan teknologi infornasi.
6 ABC Systemmerupakan tanggung jawab fungsi akuntansi 6 ABC System mengubah cara menjalankan bisnis, oleh karena itu ABC System menjadi tanggung jawab semua personel, terutama operating personel

Ada dua keyakinan dasar yang melandasi ABC System :

  1. Cost is caused. Biaya ada penyebabnya dan penyebab biaya adalah aktivitas. Dengan demikian, pemahaman yang mendalam tentang aktivitas yang menjadi penyebab timbulnya biaya akan menempatkan personal perusahaan pada posisi yang dapat mempengaruhi biaya. ABC System berangkat dari keyakinan dasar bahwa sumber daya menyediakan kemampuan untuk melaksanakan aktivitas, bukan sekedar menyebabkan timbulnya biaya harus dialokasikan.
  2. The causes of cost can be managed. Penyebab terjadi biaya (yaitu aktivitas) dapat dikelola. Melalui pengelolaan terhadap aktivitas yang menjadi penyebab terjadinya biaya, personel perusahaan dapat mempengaruhi biaya. Pengelolaan terhadap aktivitas memerlukan berbagai informasi tentang aktivitas.

Dua keyakinan dasar yang melandasi ABC System tersebut disajikan lebih jelas  pada Gambar 3. Pada Gambar 3, menggambarkan bahwa pengelolaan aktivitas ditujukan untuk mengarahkan seluruh aktivitas organisasi ke penyediaan produk/jasa bagi kepentingan pemenuhan kebutuhan costumers. Seluruh yang digunakan untuk menghasilkan produk/jasa dinilai manfaatnya ditinjau dari sudut pandang costumers. Contoh informasi tentang aktivitas adalah: customers yang mengkonsumsi keluaran aktivitas, value-and non-value-added activities, resources driver, activity driver, driver quantity, cycle effectiveness (CE), capacity resource, budget type (fixed type, variable type, step type).

Meskipun secara teoritis dapat diketahui bahwa ABC System memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, namun tidak semua perusahaan dapat menerapkan sistem ini. Ada dua hal mendasar yang harus dipenuhi oleh perusahan yang akan menerapkan ABC System, yaitu :

  1. Biaya-biaya berdasar non-unit harus merupakan persentase signifikan dari biaya overhead. Jika biaya-biaya ini jumlahnya kecil, maka sama sekali tidak ada masalah dalam pengalokasiannya pada tiap produk.
  2. Rasio-rasio konsumsi antara aktivitas-aktivitas berdasar unit dan aktivitas-aktivitas berdasar unit dan aktivitas-aktivitas berdasar non-unit harus berbeda. Jika berbagai produk menggunakan semua aktivitas overhead dengan rasio kira-kira sama, maka tidak ada masalah jika cost driver berdasar unit digunakan untuk mengalokasikan semua biaya overhead pada setiap produk. Jika berbagai produk rasio konsumsinya sama, maka sistem konvensional atau ABC System membebankan overhead pabrik dalam jumlah yang sama. Jadi perusahaan yang produknya homogen (diversifikasi produknya rendah) dapat menggunakan sistem konvensional tanpa ada masalah.

Sistem akuntansi biaya tradisional membebankan biaya overhead pabrik melalui dua tahap pembebanan yaitu pembebanan biaya overhead seperti sistem akuntansi biaya tradisional. Perbedaan antara kedua metode tersebut terletak pada dasar pembebanan (cost driver) yang digunakan. Sistem akuntansi biaya tradisional hanya menggunakan satu dasar pembebanan (cost driver) yaitu unit produksi, sedangkan ABC System menggunakan lebih dari satu cost driver sehingga informasi yang dihasilkan juga lebih akurat dan teliti. Tahap-tahap pembebanan biaya overhead pabrik pada ABC System adalah :

Tahap 1

  1. Biaya overhead pabrik dibebankan pada aktivitas-aktivitas yang sesuai.
  2. Biaya-biaya aktivitas tersebut dikelompokkan dalam beberapa cost pool yang homogen.
  3. Menentukan tarif untuk masing-masing kelompok (cost pool). Tarif dihitung dengan cara membagi jumlah semua biaya didalam cost pool dengna suatu ukuran aktivitas yang dilakukan. Tarif pool ini juga berarti biaya per unit pemacu biaya (cost driver).

Tahap II

Biaya-biaya aktivitas dibebankan ke produk berdasarkan konsumsi atau permintaan aktivitas oleh masing-masing produk. Jadi pada tahap ini biaya-biaya tiap pool aktivitas ditelusur ke produk dengan menggunaan tarif pool dan ukuran besarnya sumber daya yang dikonsumsi oleh tiap produk. Ukuran besarnya sumber daya tersebut adalah penyederhanaan dari kuantitas pemacu biaya dikonsumsi oleh tiap produk.

Pada tahap pertama, aktivitas diidentifikasikan, biaya-biaya dibebankan kepada aktivitas, aktivitas yang berkaitan digabungkan menjadi satu kelompok, kelompok biaya sejenis dibentuk, dan tarif kelompok dihitung. Pada tahap kedua, setiap permintaan produk untuk sumber daya kelompok diukur dan biaya-biaya dibebankan kepada produk dengan menggunakan permintaan ini dan tarif kelompok yang mewakili. Namun, untuk menghindari kerancuan pada konsep dasar, kita menghindari setiap pembahasan detail dari beberapa langkah prosedur tahap pertama. Kita sekarang beralih ke penjelasan yang lebih rinci dari dua langkah pertama : (1) identifikasi aktivitas dan (2) klasifikasi aktivitas ke dalam kelompok sejenis. Bagaimana biaya-biaya dibebankan ke aktivitas dibahas dalam bagian yang berbeda.

Konsep ABC System, bahwa biaya produk ditimbulkan oleh aktivitas, baik aktivitas yang berkaitan dengan volume produk maupun aktivitas yang tidak berkaitan dengan volume produk. BOP merupakan biaya yang akan diatribusikan kepada produk berdasarkan pemicu biaya (cost drivers), bukan berdasarkan volume produk.

Aktivitas merupakan tindakan yang berulang-ulang untuk memenuhi fungsi bisnis. Setiap aktivitas dapat ditentukan sebagai value added atau non value added. Kaplan (1991), menyatakan bahwa, sistem manajemen biaya mempunyai dua sisi pengukuran kinerja, yaitu finansial dan non finansial. Pengukuran kinerja yang bersifat finansial digunakan untuk pengukuran kinerja periodik dan untuk penentuan biaya produk yang akurat. Sedangkan pengukuran kinerja non finansial dapat digunakan untuk mengembangkan dan memperbaiki secara terus menerus proses produksi dengan mengurangi non value added time. Continuous improvement ini mengacu pada falsafah pengolahan bernilai tambah (value added manufacturing), yang mengacu pada kegiatan manufaktur yang terbaik dan sederhana, sehingga sistem manufaktur menjadi lebih efisien.

Dalam value added manufaturing, pemborosan diartikan secara luas, yaitu setiap kegiatan dalam pengolahan yang tidak menghasilkan nilai tambah, seperti inspection time, waiting time dan moving time. Dengan demikian apabila tidak terdapat pemborosan maka nilai masing-masing inspection time, waiting time dan moving time sama dengan nol. Non value added dapat disebabkan oleh faktor yang bersifat sistemik, fisik dan manusiawi, misalnya mesin mempunyai sistem yang mengharuskan setiap proses produksi harus dalam batch yang besar, tenaga kerja yang kurang terampil mengakibatkan meningkatnya biaya tenaga kerja.

1.Aktivitas-aktivitas Berlevel Unit

Aktivitas berlevel unit (unit-level activities) adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali satu unit produk diproduksi, besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah unit produk yang diproduksi. Sebagai contoh tenaga langsung, jam mesin, dan jam listrik (energi) digunakan setiap saat satu unit produk dihasilkan.

2.Aktivitas-aktivitas Berlevel Batch

Aktivitas-aktivitas berlevel batch adalah aktivitas yang dikerjakan setiap kali suatu batch produk diproduksi, besar kecilnya aktivitas ini dipengaruhi oleh jumlah batch produk yang diproduksi. Contoh aktivitas yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktivitas setup, aktivitas penjadwalan produksi, aktivitas pengelolaan bahan (gerakan bahan dan order pembelian), aktivitas inspeksi.

3.Aktivitas-aktivitas Berlevel Produk

Aktivitas-aktivitas berlevel produk adalah aktivitas yang dikerjakan untuk mendukung berbagai produk yang diproduksi oleh perusahaan. Aktivitas ini mengkonsumsi masukan untuk mengembangkan produk atau memungkinkan produk diproduksi dan dijual. Contoh aktivitas yang termasuk dalam kelompok ini adalah aktivitas penelitian dan pengembangan produk, perekayasaan proses, spesifikasi produk, perubahan perekayasaan, dan peningkatan produk.

4.Aktivitas Berlevel Fasilitas

Aktivitas berlevel fasilitas adalah meliputi aktivitas untuk menopang proses pemanufakturan secara umum yang diperlukan untuk menyediakan fasilitas atau kapasitas pabrik untuk memproduksi produk namun banyak sedikitnya aktivitas ini tidak berhubungan dengan volume atau bauran produk yang diproduksi. Contoh aktivitas ini mencakup misalnya : manajemen pabrik, pemeliharaan bangunan, keamanan, pertamanan, penerangan pabrik, kebersihan, pajak bumi dan bangunan (PBB), serta depresiasi pabrik.

Cost Pool adalah kelompok biaya yang disebabkan oleh aktivitas yang bersama dengan satu dasar pembebanan (cost driver). Cost pool digunakan untuk mempermudah manajemen dalam membebankan biaya-biaya yang timbul. Cost pool berisi aktivitas yang biayanya memiliki korelasi positif antara cost driver dengan biaya aktivitas. Tiap-tiap cost pool menampung biaya-biaya dari transaksi-transaksi yang homogen. Semakin tinggi tingkat kesamaan aktivitas yang dilaksanakan dalam perusahaan, semakin sedikit cost pool yang dibutuhkan untuk membebankan biaya-biaya tersebut. Sistem biaya yang menggunakan beberapa cost pool akan lebih menjelaskan hubungan sebab-akibat antara biaya yang timbul dengan produk yang dihasilkan.

Cost pool berguna untuk menentukan cost pool rate yang merupakan tarif biaya overhead pabrik per unit cost driver yang dihitung untuk setiap kelompok aktivitas. Tarif kelompok dihitung dengan rumus total biaya overhead untuk kelompok aktivitas tertentu dibagi dasar pengukuran aktivitas kelompok tersebut.

Cost driver atau pemicu biaya digunakan untuk membebankan biaya aktivitas kepada output yang secara struktural berbeda dengan yang digunakan dalam sistem biaya konvensional. Atau faktor-faktor penyebab yang menjelaskan konsumsi overhead. Cost driver merupakan dasar yang digunakan untuk membebankan biaya yang terkumpul pada cost pool kepada produk.

Identifikasi cost driver adalah komponen yang penting dalam pengendalian biaya tak bernilai tambah. Jika kinerja individual dipengaruhi oleh kemampuannya untuk mengendalikan biaya tak bernilai tambah, maka pemilihan cost driver dan bagaimana cost driver tersebut digunakan dapat mempengaruhi perilaku para individu. Jika cost driver biaya untuk biaya setup yang dipilih adalah waktu setup, maka insentif harus diciptakan bagi pekerja agar mereka dapat mengurangi waktu setup.

-Bahan kuliah Bisnis Internasional-

Bahan kuliah dari Buku International Bussiness ; The Challenges of globalization. Pearson International Edition.4th Ed…

Chapter 1:  Globalization

Chapter 2: Cross-Cultural Business

Chapter 3: Politics, Law, and Business Ethics

Chapter 4: Economic Systems and Development

Chapter 5: International Trade

Chapter 6: Business-Government Trade Relations

Chapter 7: Foreign Direct Investment

Chapter 8: Regional Economic Integration

Chapter 9: International Financial Markets

Chapter 10: International Monetary System

Chapter 11: International Strategy and Organization

Chapter 12: Analyzing International Opportunities

Chapter 13: Selecting and Managing Entry Modes

Chapter 14: Developing and Marketing Products

Chapter 15: Managing International Operations

Chapter 16: Hiring and Managing Employees

–Slide Kuliah Ekonomi Manajerial–

chapter 1 ; introduction to Managerial Economics

chapter 2 ; The Firm and Its Goals

chapter 3 ; Supply and Demand

chapter 4 ; Demand Elasticity

Chapter 5 ; Demand Estimation

Chapter 6 ; Forecasting

Chapter 7 ; The Theory and Estimation of Production

Chapter 8 ; The Theory and Estimation of Cost

Chapter 9 ; Pricing and Output Decisions: Perfect Competition and Monopoly

Chapter 10; Pricing and Output Decisions: Monopolistic Competition and Oligopoly

Chapter 11; Special Pricing Practices

Chapter 12; Economic Decision Making in the 21st Century: The “Old” Economics of the “New Economy.”

Chapter 13; Capital Budgeting

Chapter 14; Risk and Uncertainty

Chapter 15; Government and Industry: Challenges and Opportunities for Today’s Managers

Etika Bisnis

Etika bisnis merupakan suatu pengembangan dari konsep Etika. Menurut Baron (2003), yang dimaksud dengan etika bisnis adalah aplikasi dari prinsip-prinsip etika yang diterapkan sehubungan munculnya masalah masalah dalam bisnis. Dalimunthe (2004) berpendapat bahwa etika bisnis dapat diartikan sebagai suatu aturan main yang tidak mengikat karena bukan hukum. Tetapi harus diingat dalam praktek bisnis sehari-hari etika bisnis dapat menjadi batasan bagi aktivitas bisnis yang dijalankan. Etika bisnis sangat penting mengingat dunia usaha tidak lepas dari elemen-elemen lainnya. Keberadaan usaha pada hakikatnya adalah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Bisnis tidak hanya mempunyai hubungan dengan orang-orang maupun badan hukum sebagai pemasok, pembeli, penyalur, pemakai dan lain-lain.
Sim (2003) dalam bukunya Ethics and Corporate Social Responsibility – Why Giants Fall, menyebutkan: Ethics is a philosophical term derived from the Greek word “ethos,” meaning character or custom. This definition is germane to effective leadership in organizations in that it connotes an organization code conveying moral integrity and consistent values in service to the public. Jadi disini definisi Etika adalah merujuk pada kata “etos”, yang artinya kebiasaan atau karakter. Dalam pendefinisian etika, hal ini berhubungan erat kepada konsep efektivitas kepemimpinan dalam organisasi, dan merujuk pada suatu pengkodean dalam organisasi dimana dalam menyampaikan integritas moral dan nilai-nilai konsisten kepada orang banyak/masyarakat.

Dalam pendefinisian Etika Bisnis dalam buku Ethics and Corporate Social Responsibility, terdapat dua konsep etika bisnis, yaitu:

  • Normative ethics: Concerned with supplying and justifying a coherent moral system of thinking and judging. Normative ethics seeks to uncover, develop,
    and justify basic moral principles that are intended to guide behavior, actions,
    and decisions (DeGeorge, 2002)
  • Descriptive ethics: Is concerned with describing, characterizing, and studying the morality of a people, a culture, or a society. It also compares and contrasts
    different moral codes, systems, practices, beliefs, and values (Bunchholtz and
    Rosenthal, 1998).

Berbicara mengenai etika dunia usaha atau etika bisnis dalam pembangunan, tidak terlepas dari pembahasan kita mengenai perilaku (stake holders-nya), yaitu pelaku ekonomi dan bisnis, pemerintah, dan masyarakat dengan nilai-nilai dalam dunia usaha, kemajemukannya, serta kelembagaannya (Ginandjar Kartasasmita,1997)
Etika bisnis merupakan etika yang berlaku dalam keelompok para pelaku bisnis dan semua pihak yang terkait dengan eksistensi korporasi termasuk dengan para competitor. Etika itu sendiri merupakan dasar moral, yaitu nilai-nilai mengenai apa yang baik dan buruk serta berhubungan dengan hak dan kewajiban moral
Prof. Dr. H. Yudha Bhakti A.,SH., MH. (2009) mengungkapkan bahwa dalam etika bisnis berlaku prinsip-prinsip yang seharusnya dipatuhi oleh para pelaku bisnis. Prinsip dimaksud adalah :

  1. Prinsip otonomi yaitu kemampuan untuk mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan kesadaran tentang apa yang baik untuk dilakukkan dan bertanggung jawab secara moral atas keputusan yang diambilnya.
  2. Prinsip Kejujuran : bisnis tidak akan bertahan lama apabila tidak berlandaskan kejujuran karena kejujuran kunci keberhasilan suatu bisnis ( misal kejujuran dalam pelaksanaan kontrak, kejujuran terhadap konsumen, kejujuran dalam hubungan kerja dan lain-lain).
  3. Prinsip keadilan : bahwa setiap orang dalam berbisnis harus mendapat perlakukan sesuai dengan haknya masing-masing, artinya tidak boleh ada yang dirugikan haknya.
  4. Prinsip saling menguntungkan : agar semua pihak berusaha untuk saling menguntungkan, demikian pula dalam berbisnis yang kompetitif.
  5. Prinsip integritas moral : prinsip ini merupakan dasar dalam bberbisnis dimana para pelaku bisnis dalam menjalankan usaha bisnis mereka harus menjaga nama baik perusahaan agar tetap dipercaya dan merupakan perusahaan terbaik.

Dalam menciptakan etika bisnis, Dalimunthe (2004) menganjurkan untuk memperhatikan beberapa hal sebagai berikut :

Pengendalian Diri

Artinya, pelaku-pelaku bisnis mampu mengendalikan diri mereka masing-masing untuk tidak memperoleh apapun dari siapapun dan dalam bentuk apapun. Disamping itu, pelaku bisnis sendiri tidak mendapatkan keuntungan dengan jalan main curang atau memakan pihak lain dengan menggunakan keuntungan tersebut. Walau keuntungan yang diperoleh merupakan hak bagi pelaku bisnis, tetapi penggunaannya juga harus memperhatikan kondisi masyarakat sekitarnya. Inilah etika bisnis yang “etik”.

Pengembangan Tanggung Jawab Sosial (Social Responsibility)

Pelaku bisnis disini dituntut untuk peduli dengan keadaan masyarakat, bukan hanya dalam bentuk “uang” dengan jalan memberikan sumbangan, melainkan lebih kompleks lagi. Artinya sebagai contoh kesempatan yang dimiliki oleh pelaku bisnis untuk menjual pada tingkat harga yang tinggi sewaktu terjadinya excess demand harus menjadi perhatian dan kepedulian bagi pelaku bisnis dengan tidak memanfaatkan kesempatan ini untuk meraup keuntungan yang berlipat ganda. Jadi, dalam keadaan excess demand pelaku bisnis harus mampu mengembangkan dan memanifestasikan sikap tanggung jawab terhadap masyarakat sekitarnya. Tanggung jawab sosial bisa dalam bentuk kepedulian terhadap masyarakat di sekitarnya, terutama dalam hal pendidikan, kesehatan, pemberian latihan keterampilan, dll.

Mempertahankan Jati Diri
Mempertahankan jati diri dan tidak mudah untuk terombang-ambing oleh pesatnya perkembangan informasi dan teknologi adalah salah satu usaha menciptakan etika bisnis. Namun demikian bukan berarti etika bisnis anti perkembangan informasi dan teknologi, tetapi informasi dan teknologi itu harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kepedulian bagi golongan yang lemah dan tidak kehilangan budaya yang dimiliki akibat adanya tranformasi informasi dan teknologi.

Menciptakan Persaingan yang Sehat
Persaingan dalam dunia bisnis perlu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas, tetapi persaingan tersebut tidak mematikan yang lemah, dan sebaliknya harus terdapat jalinan yang erat antara pelaku bisnis besar dan golongan menengah kebawah, sehingga dengan perkembangannya perusahaan besar mampu memberikan spread effect terhadap perkembangan sekitarnya. Untuk itu dalam menciptakan persaingan perlu ada kekuatan-kekuatan yang seimbang dalam dunia bisnis tersebut.

Menerapkan Konsep “Pembangunan Berkelanjutan”
Dunia bisnis seharusnya tidak memikirkan keuntungan hanya pada saat sekarang, tetapi perlu memikirkan bagaimana dengan keadaan dimasa datang.Berdasarkan ini jelas pelaku bisnis dituntut tidak meng-”ekspoitasi” lingkungan dan keadaan saat sekarang semaksimal mungkin tanpa mempertimbangkan lingkungan dan keadaan dimasa datang walaupun saat sekarang merupakan kesempatan untuk memperoleh keuntungan besar.


Menghindari Sifat 5K (Katabelece, Kongkalikong, Koneksi, Kolusi dan Komisi)

Jika pelaku bisnis sudah mampu menghindari sikap seperti ini, kita yakin tidak akan terjadi lagi apa yang dinamakan dengan korupsi, manipulasi dan segala bentuk permainan curang dalam dunia bisnis ataupun berbagai kasus yang mencemarkan nama bangsa dan negara.

Mampu Menyatakan yang Benar itu Benar
Artinya, kalau pelaku bisnis itu memang tidak wajar untuk menerima kredit (sebagai contoh) karena persyaratan tidak bisa dipenuhi, jangan menggunakan “katabelece” dari “koneksi” serta melakukan “kongkalikong” dengan data yang salah. Juga jangan memaksa diri untuk mengadakan “kolusi” serta memberikan “komisi” kepada pihak yang terkait.

Menumbuhkan Sikap Saling Percaya antar Golongan Pengusaha
Untuk menciptakan kondisi bisnis yang “kondusif” harus ada sikap saling percaya (trust) antara golongan pengusaha kuat dengan golongan pengusaha lemah, sehingga pengusaha lemah mampu berkembang bersama dengan pengusaha lainnya yang sudah besar dan mapan. Yang selama ini kepercayaan itu
hanya ada antara pihak golongan kuat, saat sekarang sudah waktunya memberikan
kesempatan kepada pihak menengah untuk berkembang dan berkiprah dalam dunia bisnis.


Konsekuen dan Konsisten dengan Aturan main Bersama

Semua konsep etika bisnis yang telah ditentukan tidak akan dapat terlaksana apabila setiap orang tidak mau konsekuen dan konsisten dengan etika tersebut. Mengapa? Seandainya semua ketika bisnis telah disepakati, sementara ada “oknum”, baik pengusaha sendiri maupun pihak yang lain mencoba untuk melakukan “kecurangan” demi kepentingan pribadi, jelas semua konsep etika bisnis itu akan “gugur” satu semi satu.

Memelihara Kesepakatan

Memelihara kesepakatan atau menumbuhkembangkan Kesadaran dan rasa memiliki terhadap apa yang telah disepakati adalah salah satu usaha menciptakan etika bisnis. Jika etika ini telah dimiliki oleh semua pihak, jelas semua memberikan suatu ketentraman dan kenyamanan dalam berbisnis.

Menuangkan ke dalam Hukum Positif
Perlunya sebagian etika bisnis dituangkan dalam suatu hukum positif yang menjadi Peraturan Perundang-Undangan dimaksudkan untuk menjamin kepastian hukum dari etika bisnis tersebut, seperti “proteksi” terhadap pengusaha lemah. Kebutuhan tenaga dunia bisnis yang bermoral dan beretika saat sekarang ini sudah dirasakan dan sangat diharapkan semua pihak apalagi dengan semakin pesatnya perkembangan globalisasi dimuka bumi ini. Dengan adanya moral dan etika dalam dunia bisnis serta kesadaran semua pihak untuk melaksanakannya, kita yakin jurang itu akan dapat diatasi.

Kepemimpinan-Etika-Restrukturisasi Organisasi

2.1 Kepemimpinan
2.1.1 Definisi Kepemimpinan

Definisi mengenai kepemimpinan (leadership) dikemukakan oleh para peneliti dengan berbagai macam versi. Menurut Stephen P Robbins dalam Nawawi (2003), kepemimpinan adalah kemampuan mempengaruhi suatu kelompok ke arah pencapaian tujuan. Definisi lain menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan suatu interaksi antar suatu pihak yang memimpin dengan pihak yang dipimpin. Pendapat ini menyatakan juga bahwa kepemimpinan merupakan proses dinamis yang dilaksanakan melalui hubungan timbal balik antara pemimpin dan yang dipimpin dimana hubungan tersebut berlangsung dan berkembang melalui transaksi antara pribadi yang saling mendorong dalam rangka pencapaian tujuan.

Menurut Soekanto (1994), kepemimpinan adalah kemampuan dari seorang (yaitu pemimpin atau leader) untuk mempengaruhi orang lain (yaitu yang dipimpin atau pengikut-pengikutnya) sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana yang dikehendaki pemimpin. Terkadang kepemimpinan dibedakan antara kepemimpinan sebagai kedudukan dan kepemimpinan sebagai proses sosial. Kepemimpinan sebagai kedudukan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban-kewajiban sebagai suatu proses sosial merupakan segala tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu bada yang menyebabkan gerak dari warga masyarakat. Oleh karena itu , pemimpin merupakan dampak interaktif dari faktor individu/ pribadi dengan faktor situasi. Beberapa definisi pemimpin yang dikutip oleh Kartono dalam Siregar(2006) adalah sebagai berikut:

  1. Pemimpin adalah seorang yang memiliki kelebihan sehingga dia mempunyai kekuasaaan dan kewibawaan untuk menggerakkan, mengarahkan dan membimbing bawahan. Juga mendapatkan pengakuan serta dukungan dari bawahannya, sehingga dapat menggerakkan bawahan ke arah pencapaian tujuan tertentu.
  2. Henry Pratt Fairchild mengatakan bahwa pemimpin dalam pengertian luas adalah seorang pemimpin dengan jalan memprakarsai tingkah laku sosial dengan mengatur, menunjukkan, mengorganisir, atau mengontrol usaha/upaya orang lain atau melalui prestise, kekuasaan atau posisi. Dalam pengertian terbatas, pemimpin adalah seorang yang membimbing-pemimpin dengan bantuan kualitas-kualitas persuasifnya dan akseptansi/penerimaan secara sukarela oleh para pengikutnya.
  3. John Gage Allee mengatakan : “ Leader is a guide, a conductor; a commander” ( Pemimpin adalah pemandu, penunjuk, penuntun, komandan) Kottler dalam Andriany(2006) menyebutkan bahwa kepemimpinan mengacu pada proses gerakan suatu kelompok dalam arah yang sama tanpa paksaan. Menurutnya, kepemimpinan yang baik menggerakkan orang pada satu arah yang benar-benar merupakan minat jangka panjang mereka.

Herujito dalam Oktaviani (2007) menyatakan bahwa kepemimpinan akan timbul dimanapun asalkan ada unsur-unsur berikut ini, yaitu :

  1. ada orang yang dipengaruhi
  2. ada orang yang mempengaruhi
  3. ada pengarahan dari yang mempengaruhi

Model kepemimpinan menurut Herujito dalam Oktaviani(2007) didasarkan pada kenyataan bahwa kepemimpinan muncul dari adanya suatu hubungan yang kompleks terdiri dari (1) Pemimpin; (2) Pengikut; (3) Struktur Organisasi dan (4) Nilai Sosial dan pertimbangan politik. Oleh sebab itu kepemimpinan ini terdiri dari variabel-variabel sebagai berikut : ada seorang pemimpin, kelompok yang dipimpin, ada tujuan atau sasaran, ada aktivitas, ada interaksi dan ada kekuatan.
Menurut Stooner , fungsi kepemimpinan yang bertalian dengan tugas dan pembinaan kelompok, cenderung diekspresikan dalam dua gaya kepemimpinan yang berbeda. Pemimpin yang berorientasi pada tugas mengawasi bawahan secara ketat untuk memastikan bahwa tugas dilaksanakan secara memuaskan. Pelaksanaan tugas itu jauh lebih penting daripada pertumbuhan pekerja atau kepuasaan pribadi. Pemimpin yang berorientasi pada pekerja lebih berusaha memotivaasi daripada mengontrol bawahan. Pemimpin mengupayakan hubungan yang akrab, penuh kepercayaan, dan penuh penghargaan dengan pekerja, yang sering dibiarkan untuk berperan serta dalam keputusan-keputusan yang berhubungan dengan pekerja.
Kepemimpinan dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang untuk mendorong orang banyak untuk mengikuti jalan berpikir dan ucapan yang diungkapkannya, hal ini dikarenakan bahwa mereka meyakini kebenaran dari apa yang diungkapkan tersebut. Kepemimpinan memiliki arti penting dalam pencapaian tujuan suatu organisasi sehingga dapat dikatakan bahwa kesuksesan atau kegagalan yang dialami sebagian besar ditentukan oleh kualitas kepemimpinan yang dimiliki oleh orang-orang yang diserahi tugas memimpin dalam organisasi itu. Dari uraian yang telah dikemukakan tampak bahwa terdapat berbagai pengertian kepemimpinan. Secara umum dapat dibedakan dua pengertian kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan organisasi, kepemimpinan mengandung pengertian sebagai kemampuan menggerakkan orang-orang yang dipimpin untuk mencapai tujuan organisasi sesuai dengan yang diinginkan pemimpin. Kedua, kepemimpinan dalam arti yang lebih luas.

Kepemimpinan diartikan setiap kemampuan untuk mempengaruhi orang lain sehingga orang lain berperilaku sesua dengan yang diinginkan orang tersebut (pemimpin).
Dalam kepemimpinan organisasi, Siagian dalam Oktavitani(2007) mendefinisikan pemimpin sebagai setiap orang yang mempunyai “bawahan”. Kemampuan untuk mengkombinasikan kekuatan kepemimpinan dan kekuatan manajemen untuk membangun sesuatu disebut “ pemimpin-manajer” .
2.1.2 Karakteristik Pribadi Pemimpin
Kottler dalam Andriany (2006) memberikan beberapa sifat yang dimiliki oleh seorang pemimpin agar dapat menjadi pemimpiin yang efektif. Sifat tersebut antara lain wajah tampan, bijaksana, karisma, mampu memotivasi orang-orang, kemampuan komunikasi yang cukup dan panddangan yang tajam pada semua tipe orang yang terlibat. Sifat-sifat tersebut dapat dilihat pada uraian Kottler mengenai syarat-syarat untuk memberikan kepemimpinan yang efektif dalam tugas-tugas manajemen dalam bisnis yang komplek sebagai berikut :
1. Pengetahuan Mengenai Industri dan Organisasi
a. Pengetahuan yang luas mengenai Industri (pasar, persaingan, produk, teknologi)
b. Pengetahuan yang luas mengenai perusahaan (para pemain kunci dan apa yang membuat posisi mereka kuat, kebudayaan, sejarah, system)
2. Relasi dalam perusahaan dan Industri
a. Relasi yang kuat dan luas dalam perusahaan dan industri
3. Reputasi dan Catatan Rekor
a. Reputasi yang cemerlang dan suatu catatan rekor yang kuat dalam sejarah aktivitas
4. Kemampuan dan Keahlian
a. Pikiran yang tajam ( kemampuan menganalisis yang cukup kuat, pengambil keputusan yang baik, kemampuan untuk berfikir secara strategis dan multidimensi)
b. Keahlian dalam berhubungan dengan orang ( keahlian untuk membangun hubungan kerja yang baik dengan cepat,empati, kemampuan menjual, peka terhadap orang dan sifat manusia)
5. Nilai-nilai Pribadi
a. Integrasi yang tinggi ( bisa menghargai semua orang dan kelompok)
6. Motivasi
a. Mempunyai banyak energi
b. Dorongan yang kuat untuk memimpin (kekuatan dan prestasi perlu didukung oleh rasa percaya diri )
2.1.3 Gaya Kepemimpinan
Golberg dan Learson dalam Andriany(2006) menyebutkan gaya kepemimpinan yang diuraikan oleh lewin, yang meliputi: gaya kepemimpinan otoriter, gaya demokratis, gaya laissez faire,dan gaya non-direktif.
a. Gaya Otoriter
Pemimpin yang menganut gaya otoriter mengeksploitir ketergantungan pengikutnya dengan menentukan kebijakan kelompok tanpa berkonsultasi dengan anggota kelompok yang lain, mendikte tugas, menetapkan prosedur, mengkritik anggota serta cenderung mengambil jarak dengan anggota kelompok lain.
b. Gaya Demokratis
Pemimpin yang menganut gaya demokratis percaya bahwa orang mampu mengarahkan diri sendiri dan berusaha menyajikan suatu kesempatan bagi anggotanya untuk tumbuh, berkembang, dan bertindak sendiri (self actualization). Pemimpin yang demokratis mendukung komunikasi diantara para anggota kelompok dengan cara mendorong mereka untuk menentukan sendiri kebijaksanaan dan kegiatan kelompok.
c. Gaya Laissez Faire
Kepemimpinan ini menunjukkan suatu pola pengabaian, dimana pemimpin yang dipilih atau tokoh yang berwenang dalam suatu kelompok berusaha menghindari tanggung jawab terhadap kelompoknya. Pemimpin yang menganut gaya ini menghindari partisipasi dan menganut sikap yang tak acurh terhadap anggota kelompoknya serta memberikan materi dan informasi hanya apabila diminta.
d. Kepemimpinan Non Direktif
Pemimpin yang menganut gaya ini menolak memberikan pengarahan pada kelompok, tetapi mencoba mengerti tentang apa yang dirasa dan dipikirkan oleh anggota kelompok. Dengan demikian kelompok diberi tanggung jawab untuk menentukan dan mencari tujuan serta sasaran mereka sendiri.
Lebih mendalam lagi Thoha (2001) menjelaskan perilaku gaya dasar dalam proses pengambilan keputusan, yaitu :
1. Instruksi, yaitu perilaku pemimpin yang tinggi pengarahan dan rendah dukungan, dicirikan oleh komunikasi satu arah. Pemimpin memberikan batasan peranan pengikutnya dan memberitahu mereka tentang mekanisme pelaksanaan berbagai tugas. Inisiatif pemecahan masalah dan proses pembuatan keputusan semata-mata dilakukan oleh pemimpin.
2. Konsultatif, yaitu perilaku pemimpin tinggi pengarahan dan tinggi dukungan. Dalam hal ini pemimpin masih banyak memberikan pengarahan dan pengambilan keputusan , tetapi hal ini diikuti dengna banyaknya komunikasi dua arah dan perilaku mendukungan dengan menderngar perasaan dari pengikut tentang keputusan yang idbuat serta ide dan saran dari mereka.
3. Partisipasi, yaitu perilaku pemimpin yang tinggi dukungan dan rendah pengarahan. Dalam hal ini posisi control atas pemecahan masalah dan pembuatan keputusan dipegang secara bergantian, komunikasi dua arah ditingkatkan dan peranan pemimpin adalah secara aktif mendengar. Tanggung jawab pemecahan masalah dan pembuatan keputusan sebagian besar berada pada pihak pengikut.
4. Delegasi yaitu perilaku pemimpin yang rendah dukungan dan rendah pengarhan. Dalam hal ini pemimpin mendiskusikan mesalah bersama-sama dengan bawhan sehingga tercapai kesepakan menganai defisini masalah yang kemudian proses pembuatan keputusan didelegasikan secara keseluruhan pada bawahan.
Menurut Siagian dalam Oktaviani(2007) menyebutkan bahwa kepemimpinan dapat dikembangkan melalui pengembangan diri. Disebutkan juga bahwa kesalahan fatal dari seorang pemimpin adalah ketidakmampuan belajar dari kesalahan, kurang keahlian dan kemampuan interpersonal, kurang terbuka terhadap ide baru , kurang akuntabel, dan miskin inovasi. Untuk menghindarkan kesalahan tersebut ada lima kompetensi yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin yaitu karakter, kemampuan interpersonal, keahlian interpersonal, fokus pada hasil, serta memimpin perubahan organisasi.
Menurut Siagian dalam Oktavitani(2007) kepemimpinan dengan modal berupa bakat memang penting, akan tetapi tidak cukup. Kesempatan memperoleh pengetahuan teoritikal melalui pendidikan dan latihan kepemimpinan juga sangat penting, akan tetapi juga tidak cukup. Masih diperlukan adaya kesempatan untuk menduduki jabatan pimpinan yang memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk menumbuhkan dan mengembangkan bakatnya dan menerapkan pengetahuan teoritikal yang dimilikinya.
2.1.4 Teori – Teori Perkembangan Kepemimpinan.
Dalam membahas tentang kepemimpinan akan terkait dengan teori-teori yang dikemukakan oleh para ahli. Terdapat berbagai pandangan mengenai lahir dan berkembangnya pemimpin dalam kehidupan masyarakat. Ada yang berpendapat bahwa kepemimpinan itu potensi yang dibawa sejak lahir, ada pula yang meyakininya pemimpin lahir karena situasi yang menghendaki.
Menurut Siagian dalam Soekanto (1994), dalam memahami gerak perubahan kemunculan seorang pemimpin, ada tiga teori yang dapat menjelaskan kemunculan seseorang sebagai pemimpin.
1. Teori Genetis
• Inti dari ajaran teori ini tersimpul dalam sebutan yang mengatakan bahwa “ leaders are born and not made” . Pemimpin tidak dapat diciptakan tetapi muncul karena bakal luar biasa sejak lahir.
• Seorang pemimpin akan menjadi pemimpin karena ia telah dilahirkan dengan bakat-bakat kepemimpinan.
• Seorang pemimpin ditakdirkan lahir menjadi pemimpin dalam situasi dan kondisi macam apapun.
• Secara filosofis, pandangan ini tergolong kepada pandangan yang fatalistis atau deterministis.
2. Teori Sosial ( Lawan teori genetis)
• Inti ajaran teori sosial ini adalah bahwa “ leaders are made and not born”. Pemimpin tidak lahir begitu saja, dia harus disiapkan dan dibentuk.
• Setiap orang bisa menjadi pemimpin apabila diberikan pendidikan dan pengalaman yang cukup.
3. Teori Ekologis ( sebagai reaksi atas kedua teori diatas)
• Seseorang hanya akan berhasil menjadi pemimpin yang baik apabila ia pada waktu lahirnya telah memiliki bakat-bakat kepemimpinan, bakat-bakat tersebut kemudian dikembangkan melalui pendidikan yang teratur dan pengalaman-pengalaman yang memungkinkannya untuk mengembangkannya lebih lanjut bakat-bakat yang memang telah dimiliki itu.
Penulis lain, Thoha dalam Andriany(2006) mengungkapkan teori kepemimpinan sebagai berikut :
• Teori Sifat ( Trait Theory)
Teori ini memandang bahwa perhatian terhadap kepemimpinan dialihkan kepada sifat-sifat umum yang dipunyai oleh pemimpin, tidak lagi menekankan apakah pemimpin itu dilahirkan atau dibuat.
• Teori Kelompok
Teori kelompok ini beranggapan bahwa supaya kelompok bisa mencapai tujuan-tujuannya, maka harus terdapat suatu pertukaran yang posisif diantara pemimpin dan pengikut-pengikutnya.
• Teori Situasional
Dalam teori ini disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan yang dikombinasikan dengan situasi akan mampu menentukan keberhasilan pelaksanaan kerja.
• Teori Jalan Kecil-Tujuan (Path-goal Theory)
Dalam teori ini digambarkan pengaruh perilaku pemimpin terhadap motivasi, kepuasan dan pelaksanaan pekerjaan bawahannya.
2.2 Teori Etika
Etika berasal dari bahasa Yunani ”ethos” yang memiliki arti adat istiadat/kebiasan yang baik. Seiring dengan perkembangan jaman, arti kata ini berkembang menjadi suatu arti berdasarkan tujuan, ruang dan waktu yang berbeda, serta dan konteks yang berbeda dalam menggambarkan perangai manusia terhadap aktivias kehidupan. Menurut Martin (1993), etika didefinisikan sebagai :”the discipline which can act as the performance index or reference for our control system”. Suseno (1987) menyatakan bahwa etika adalah sebuah ilmu dan bukan sebuah ajaran. Ahli filosofi memandang etika sebagai suatu studi formal tentang moral, sedangkan sosiolog memandang etika sebagai adat istiadat kebiasaan dan budaya dlm berperilaku. Sebagai suatu subyek, etika akan berkaitan dengan konsep yang dimiliki oleh individu ataupun kelompok untuk menilai apakah tindakan-tindakan yang telah dikerjakannya itu salah atau benar, buruk atau baik.
2.3 Teori Efektivitas Organisasi
2.3.1 Efektivitas Kinerja Organisasi
Kast dan Rosenzweig seperti yang dikutip oleh Soekanto (1994) mengatakan bahwa efektivitas organisasi adalah suatu ukuran atau dimensi yang biasa digunakan untuk mengenai jurang antara “situasi yang ada” dengan “situasi yang diharapkan” dalam perbaikan organisasi.
Sedangkan Olmstead dalam Andreadis(2009) mengungkapkan bahwa
…organizational effectiveness as the accomplishment of missions or the achievement of objectives…
Definisi ini memberikan implikasi bahwa terciptanya suatu efektivitas organisasi atau suatu pencapain sasaran organisasi yang tepat dan benar merupakan suatu tahapan penyempurnaan dari strategi, struktur, proses, perilaku dalam pencapain sasaran tersebut.
Organisasi terdiri dari individu dan kelompok, karena itu efektivitas organisasi terdiri dari efektivitas individu dan kelompok. Namun demikian, efektivitas kinerja organisasi lebih banyak dari jumlah efektivitas individu dan kelompok. Organisasi mampu mendapatakan hasil kinerja untuk lebih tinggi tingkatannya dari pada jumlah hasil kinerja setiap bagiannya. Sebenarnya, alasan bagi organisasi sebagai alat untuk melaksanakan pekerjaan masyarakat adalah bahwa organisasi itu dapat melakukan pekerjaan masyarakat adalah bahwa organisasi itu dapat melakukan pekerjaan yang lebih banyak dari pada yang mungkin dilakukan oleh individu. Jadi pengertian efektivitas kinerja organisasi adalah pencapaian tujuan atau hasil yang dilakukan dikerjakan oleh setiap individu secara bersama-sama.
2.3.2 Pendekatan Efektivitas Kinerja Organisasi
Adapun beberapa pendekatan efektivitas kinerja organisasi oleh George England dalam Siregar (2006) dikemukakan sebagai berikut :
1. The Bass Model
• The degree to which it is productive, profitable, self maintaining, and so fort (Tingkat produktivitas, menguntungkan, mandiri dan sebagainya).
• The degree to which it is of value to it is member (Tingkat manfaatnya bagi anggotanya).
• The degree to which it and its members are of value to society (Tingkat manfaat organisasi dan anggotanya bagi masyarakat).
2. The Yochman-searchore Model
• Organisasi sebagai sistem terbuka
• Efektivitas organisasi sama dengan posisi tawar menawar
• Penguasaan sumber-sumber langkah dan berharga
• Kontrol lingkungan
3. The Bennis Model
• Model ini yang terpenting dalam kriteria efektivitas kinerja organisasi adalah perhatiannya terhadap masalah adaptasi pada perubahan.
2.4 Tinjauan Teori Restukturisasi Organisasi
Organisasi berfungsi dengan berbagai struktur dan proses yang saling tergantung. Struktur dan proses-proses organisasi adalah tidak tetap atau statik, tetapi lebih merupakan pola-pola hubungan yang berubah secara kontnyus dalam suatu kegiatan sosial yang lebih luas. Oleh karena itu, perubahan adalah suatu aspek yang universal dan kontinual dalam organisasi (Soekanto,1994)
Sedangkan Porter dkk dalam Soekanto (1994) menyatakan bahwa kecepatan perubahan akan berbeda dari satu organisasi dengan organisasi lainnya, tetapi fakta tentang perubahan tidak. Hal ini dapat mengimplikasikan sebuah pernyataan bahwa perubahan adalah bagian dan bidang proses organisasional, dan tidak ada pembahasan tentang organisasi yang akan lengkap tanpa pembicaraan topik perubahan dalam organisasi itu sendiri.
Soekanto (1994) mengemukakan secara ringkas mengenai berbagai sumber perubahan organisasi, antara lain :
1. Lingkungan di luar organisasi
Lingkungan di luar organisasi, baik itu politik, ekonomi, sosial, budaya, agama, kepercayaan, pertahanan, keamanan (nasional maupun internasional). Perubahan lingkungan terjadi begitu cepat sehingga memberikan tekanan pada organisasi untuk merubah tujuan, strategi, kebijaksanaan dan struktur organisasi.
2. Perubahan Tujuan Organisasi
Perubahan tujuan organisasi baik itu datangnya dari dalam maupun dipaksakan dari luar dapat terjadi. Merubah tujuan berarti merubah strategi organisasi dan ini memerrlukan perubahan wadah strategi tersebut yaitu struktur.
3. Teknologi
Teknologi yang berubah jelas akan merubah organisasi; metode baru memerlukan penangan khusus dan perlunya bagian pennelitian dan pengembangan yang menerapkan metoda-metoda baru demi perusahaan.
4. Manajerial
Dahulu organisasi mungkin hanya perencanaan dan pengawasan. Sekarang karena kompeksitasnya kegiatan yang ada maka diperlukan pengorganisasian, pengarahan dan pengkoordinasian fungsi-fungsi operasional perusahaan.
5. Perubahan struktural
Perubahan struktural jelas merubah organisasi sebagaimana yang telah dikemukakan diattas dimana disini diperlukan penyesuaian yang menyeluruh baik mengenai proses maupun organisasional yang terjadi.
6. Perubahan Psikososial
Perubahan psikososial bersumber pada para anggota. Kemampuan dan kemauan anggota tentu saja akan mempengaruhi kesuksesan organisasi.
Kebijakan restrukturisasi organisasi pada hakekatnya bermaksud untuk melakukan perubahan atau penataan ulang struktur organisasi sehingga sesuai dengan kebutuhan perusahaan. Oleh karena itu dalam restrukturisasi organisasi harus memperhatikan faktor-faktor yang menjadi penentu atau dianggap penting sehingga struktur organisasi yang dihasilkan akan efektif. Menurut Djatmiko dalam Andriany(2006), beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan struktur organisasi: ukuran organisasi, teknologi, lingkungan dan strategi pilihan. Sedangkan Tyson dan Jackson (2000) mengemukakan ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan ketika mendisain organisasi dalam bentuk birokrasi, yaitu: ukuran hierarki, rentang pengawasan dan pengelompokan kegiatan.
Soekanto (1994) juga mengemukakan beberapa pandangan tentang konsep perubahan dalam organisasi, hal itu antara lain :
1. Pandangan yang menyatakan bahwa pada hakekatnya sasaran atau target perubahan organisasi adalah birokrasi, dimana dalam hal ini birokrasi sebagai alat administrasi untuk pencapaian tujuan-tujuan dan sebagai suatu instrumen kekuasaan dan pengaruh.
2. Pandangan kedua yang diungkapkan oleh Warren G. Bennis dimana yang mengatakan bahwa perubahan organisasi hendaknya melalui demokrasi dan liberalisasi.
3. Pandangan ketiga yang dikenal sebagai aliran yang menentang paham perubahan yang direncanakan. Paham ini dipelopori oleh Kast dan Rosenzqeig, dimana beranggapan bahwa organisasi pada umumnya dan manajemen pada khususnya dapat mengenali jurang antaara situasi yang ada dengan situasi yang diharapkan berdasarkan berbagai ukuran. Segala sesuatu yang berhubungan dengan itu disebut perbaikan organisasi. Adapun ukurang atau dimensi yang biasa digunakan adalah efektivitas dan efisiensi organisasi, serta kepuasan anggota.

Konflik???

Menurut Robbins (2006), konflik merupakan sebuah proses dimana sebuah upaya sengaja dilakukan oleh seseorang untuk menghalangi usaha yang dilakukan oleh orang lain dalam berbagai bentuk hambatan (blocking) yang menjadikan orang lain tersebut merasa frustasi dalam usahanya mancapai tujuan yang diinginkan atau merealisasi minatnya. Konflik dapat muncul dari dalam diri sendiri (internal conflict) dan dari luar (external conflict). Dalam setiap konflik yang terjadi juga dapat memberikan pengaruh yang positif ataupun negatif terhadap permasalahan dan pengembangan diri tersebut. Adapun beberapa faktor penyebab terjadinya konflik antara lain :

a. Perbedaan cara pandang
Perbedaan pandangan antar individu mengakibatkan konflik dan hal ini dapat menghambat perkembangan pekerjaan dan dapat mengakibatkan penurunan produktivitas.

b. Perbedaan tujuan
Konflik juga terjadi karena adanya perbedaan tujuan dan kepentingan antara tujuan individu dalam tim dan tujuan tim atau perusahaan itu sendiri. Sebagai contoh, seorang yang memiliki tujuan untuk dapat memenuhi target jangka pendek akan mendapat masalah jika bekerja sama dengan rekannya yang lebih mendahulukan pencapaian tujuan perusahaan dalam jangka panjang, disini target yang dimaksud bukan merupakan target pencapaian dalam angka saja melainkan dari segi profitabilitas jangka panjang.

c. Perbedaan pemahaman
Terjadinya suatu konflik dapat juga diakibatkan karena adanya perbedaan persepsi atau terjadinya miskomunikasi mengenai suatu hal, sehingga hal ini menimbulkan perbedaan pemahaman. Hal ini bisa terjadi karena perbedaan informasi yang didengar atau adanya distorsi dari penyampaian informasi tersebut. Pemahaman yang setengah-setengah, tidak tuntas tersebut, berpotensi menimbulkan masalah.
Terdapat banyak cara yang dapat digunakan untuk mengatasi konflik yang terjadi. Berikut adalah cara-cara yang dapat dijadikan alternatif pemecahan konflik.
a. Hindari sumber konflik
Apabila dapat melakukan pekerjaan tanpa harus berinteraksi langsung dengan orang yang ”bisa menimbulkan konflik”, maka hal ini akan menguntungkan. Kita tidak perlu menguras tenaga, pikiran dan waktu untuk mencoba mengubah mereka ataupun mengubah diri kita sendiri. Kita tidak perlu bersusah payah mengatasi rasa kesal, ataupun marah yang muncul karena berurusan dengan mereka. Dengan demikian kita dan orang tersebut bisa melakukan pekerjaan masing-masing tanpa harus dipusingkan untuk menghadapi ketidakcocokan ataupun perbedaan-perbedaan menyolok lainnya yang bisa saja memiliki potensi yang besar sebagai penyebab konflik.

b. Netralisasi sikap
Cara lain yang dapat dilakukan untuk mengatasi konflik adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang yang berpotensi menjadi sumber konflik. Kalaupun tidak bisa menghindari interaksi dengan orang-orang yang mungkin dapat menyebabkan konflik, yang dapat dilakukan adalah menetralisasi sikap terhadap orang-orang tersebut dengan mengabaikan kebiasaan-kebiasaan buruk mereka yang menyebalkan. Sebaliknya, yang dapat dilakukan adalah memfokuskan perhatian pada kekuatan orang-orang tersebut dan mencari strategi ampuh untuk memanfaatkan kekuatan mereka untuk mendukung pekerjaan kita.

c. ”Ubah” sikap kita
Kita mungkin tidak dapat mengubah sikap orang-orang yang tidak sepaham, tetapi yang dapat kita lakukan adalah mengubah sikap kita pada pengaruh negatif yang mereka timbulkan. Jika mereka mulai berulah, maka kita tidak perlu merasa terusik.

d. ”Blending”
Cara lain yang diusulkan untuk mengatasi konflik yaitu dengan mengurangi perbedaan yang ada, mencari persamaan, dan berangkat dari persamaan tersebut. Kita bisa mencoba mengurangi perbedaan dengan bersama-sama berangkat menuju titik tengah. Cara lain adalah mencari titik persamaan dari sekian perbedaan yang ada. Maksudnya, jika ternyata kita memiliki perbedaan cara pandang tetapi memiliki tujuan akhir yang sama. Kita bisa memfokuskan pada tujuan yang sama tersebut.

e. ”Understanding”
Alternatif lain dalam mengatasi konflik adalah mencari sumber masalahnya untuk kemudian memecahkan masalah tersebut bersama. Semua sikap ataupun tindakan serta keputusan yang dilakukan seseorang pasti ada alasannya.

Jadi apabila sedang menghadapi konflik, yang pertama kali harus dilakukan adalah mengidentifikasi sumber penyebab konflik dan memilih strategi yang tepat untuk mengatasi konflik tersebut sehingga dapat mengubah konflik menjadi kerja sama yang harmonis. Dengan kerja sama ini diharapkan dapat lebih berprestasi dan memperoleh banyak dukungan untuk berprestasi.

Sekilas Tentang Teori Motivasi

Teori Hirarki Kebutuhan Dari A.H Maslow
Secara umum teori hierarki kebutuhan yang dipaparkan oleh A.H. Maslow membahas mengenai motivasi yang didasarkan oleh tingkatan kebutuhan manusia. Motivasi kerja didasarkan oleh 5 macam kebutuhan yaitu mulai dari yang paling dasar (primer) sampai yang paling tinggi derajatnya. Dalam teorema hirarki diakui bahwa terpenuhinya kebutuhan harus didasarkan pada urutan tingkatan yang ada dari dasar hingga tingkatan yang paling tinggi, jadi ketika tingkatan kebutuhan dasar tidak dapat dipenuhi maka untuk tingkatan kebutuhan diatasnya hal itu tidak dapat secara langsung dipenuhi. Lima tingkatan kebutuhan berdasarkan teorema hierarki A.H Maslow dapat dijabarkan sebagai berikut:
1. Tingkatan kebutuhan dasar/ jasmaniah/faali, contoh: gaji
2. Tingkatan kebutuhan akan rasa aman : pengangkatan sebagai pegawai tetap, tunjangan, pensiun, dan sebagainya.
3. Tingkatan kebutuhan untuk memiliki dan mencintai: ingin terlibat dalam kegiatan kelompok formal dan informal (sosial).
4. Tingkatan kebutuhan akan harga diri : gelar, jabatan, promosi.
5. Tingkatan kebutuhan untuk aktualisasi diri: ingin merealisasikan gagasan-gagasan dan kreasi-kreasi sendiri.

Teori Dua Faktor Dari Hezberg
Motivasi kerja ditentukan oleh faktor-faktor yang menghambat dan mendorong motivasi kerja sebagai berikut:
a. Faktor-faktor yang menghambat motivasi kerja disebut sebagai faktor higienik misalnya masalah gaji, keamanan kerja, pengawasan, kebijaksanaan dan administrasi perusahaan, kondisi kerja, hubungan antara pegawai dan lain-lain. Kalau faktor higienik ditingkatkan maka maka hambatan terhadap motivasi kerja hilang.
b. Faktor-faktor yang mendorong MK disebut sebagai motivator misalnya prestasi, penghargaan, tanggung jawab, kemajuan kerja itu sendiri. Peningkatan faktor motivator akan meningkatkan motivasi kerja.

Teori ERG Dari Alderfer
Teori motivasi kerja oleh Alderfer mirip dengan teori yang dikemukakan oleh Maslow yaitu menghubungkan motivasi kerja dengan kebutuhan tetapi Alderfer hanya mengemukakan 3 kebutuhan yaitu Existence, Relatedness, Growth (ERG):
a. Existence : Kebutuhan untuk bertahan hidup (survival).
b. Relatedness : Kebutuhan untuk berinteraksi sosial.
c. Growth : Kebutuhan untuk mengembangkan diri sendiri,

Motif Sosial oleh David McClelland
Interaksi sosial yang dilakukan manusia didalam kehidupannya melibatkan motif sosial yang mengimplikasian pada setiap tindakannya dalam berinteraksi antar sesamanya. Menurut McClelland ada tiga macam motif yang sangat berpengaruh dalam diri seseorang dalam berhubungan dengan lingkungannya. Motif tersebut dinamakan motif sosial yaitu motif yang pada umumnya akan mempengaruhi tingkah laku seseorang bila ia berhubungan dengan orang lain di dalam suatu lingkungan dan situasi tertentu.
Adapun motif – motif sosial yang dipaparkan oleh David Mc Clelland adalah:
a. Motif Affiliasi : yaitu motif yang mengarahkan tingkah laku seseorang dalam berhubungan dengan orang lain. Didalam lingkungannya akan berlaku sebagai seseorang yang menyenangi keharmonisan.
b. Motif Kekuasaan ; motif yang menyebabkan seseorang ingin menguasai dan mendominasi orang lain dalam berhubungan dengan seseorang dan lingkungannya. Orang yang mempunyai motif ini cenderung untuk bertingkah laku otoriter. Ia senang dapat bertindak dan berkuasa atas orang lain dan orang-orang tersebut mau berbuat seperti apa yang dikatakannya.
c. Motif prestasi : motif yang mengarahkan tingkah laku seseorang dengan menitikberatkan pada tercapainya suatu prestasi tertentu. Kalau pada motif sebelumnya objeknya adalah motif manusia lain yang ada di lingkungannya maka motif ini sangat erat hubungannya dengan pekerjaan. Orang-orang yang memiliki motif ini tidak terlampau menghiraukan orang lain yang paling penting adalah bagaimana caranya bisa mencapai suatu prestasi tertentu.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.